Senin, 10 Oktober 1994

INDONESIA PUNYA TEMPAT KHUSUS DALAM KEBIJAKAN LUAR NEGERI IRAN



     Jakarta, 10/10/1994 (ANTARA) - Indonesia, sebagai negara yang penduduknya mayoritas muslim dan salah satu pendiri Gerakan Non-Blok (GNB), mempunyai tempat khusus dalam kebijakan luar negeri Iran, ujar Duta Besar Iran untuk Indonesia S. Asghar Ghoraishi di Jakarta, Senin.
   Hubungan erat antara Indonesia dan Iran akan ditingkatkan lagi dengan adanya kunjungan kenegaraan Presiden Iran Hashemi Rafsanjani ke Indonesia, 13-15 Oktober, atas undangan Presiden Soeharto, Dubes Ghoraishi mengatakan kepada ANTARA.
   Selama di Jakarta, kedua Presiden diharapkan akan membicarakan masalah bilateral, regional serta internasional yang menjadi perhatian dan kepentingan kedua negara, ujarnya.
    Pandangan yang sama antara Indonesia dan Iran dalam berbagai isu internasional dan kehadiran kedua negara dalam beberapa organisasi penting seperti Organisasi Konperensi Islam, GNB dan OPEC, menambah eratnya hubungan Indonesia dan Iran selama, ujar Dubes.
    Menurut Mensesneg Moerdiono, Rafsanjani akan didampingi istrinya, dan Menlu Velayati, Menteri Postel, Menhankam serta Panglima pasukan pengawal Revolusi.
    Presiden Iran itu hari Jumat akan melakukan sholat di Masjid Istiqlal dan kemudian siang harinya dijadwalkan berkunjung ke IPTN Bandung.
    Kedua negara setuju mengadakan kerjasama di bidang industri pesawat dan kapal laut ketika Presiden Soeharto berkunjung ke Teheran, November tahun lalu.
    Iran, yang baru-baru ini membeli dua kapal tunda dari Indonesia, juga berminat pada helikopter Super Puma dari IPTN. Pembelian helikopter tersebut sedang dipertimbangkan, ujar Dubes.
    Presiden Rafsanjani pernah ke Indonesia sebelumnya ketika ia menghadiri KTT Gerakan Non-Blok di Jakarta pada 1992.
     Nilai perdagangan timbal balik antara Indonesia dan Iran juga makin meningkat tiap tahun, kini mencapai 200 juta dolar AS, menurut Dubes. "Masih banyak lagi potensi yang bisa digali untuk meningkatkan hubungan dagang ini," ujarnya.

        Ia menjelaskan bahwa Iran dan Indonesia, yang dulu menggunakan sistem barter dalam pengaturan perdagangan kedua belah pihak, kini melakukan bisnis sesuai dengan pola perdagangan internasional.
        Indonesia banyak membeli minyak dari Iran, sementera barang-barang ekspornya ke Iran antara lain berupa kertas, teh, karet dan kabel telekomunikasi.
        Beberapa perusahaan Indonesia telah memanfaatkan tawaran Iran untuk menjadi 'pintu gerbang' bagi komoditi ekspornya, seperti kapas, ke negara-negara di Asia Tengah (bekas negara bagian Uni Soviet).
        Dubes mengharapkan agar Indonesia dapat lebih memanfaatkan fasilitas yang ditawarkan Iran dengan selesainya pembangunan jaringan kereta api yang menghubungkan Bandarabbas, kota pelabuhan Iran, dengan Asia Tengah.
        Ia berpendapat potensi kerjasama bilateral yang masih bisa dikembangkan antara lain di bidang pelayanan teknologi dan rekayasa seperti pembangunan jalan, penanaman modal bersama, pembuatan suku cadang kendaraan oleh perusahaan Iran, pertukaran dosen dan mahasiswa dan berbagai penelitian ilmiah yang menguntungkan kedua negara.
        Dari Indonesia, Presiden Rafsanjani akan melanjutkan perjalanan ke Brunei Darussalam dan Malaysia. (T/RI4/C/DN07/10/10/94 18:07/RU1/19:10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar