Rabu, 29 November 1995

CENDIKIAWAN ISLAM LIHAT ADA KEBODOHAN TERLEMBAGA DI UNIVERSITAS

Jakarta, 29/11/1995 (ANTARA) - Prof. Mohamed Arkoun berpendapat bahwa ada kebodohan yang terlembaga yang diajarkan universitas, karena itu sangat diperlukan pembebasan pengetahuan.
        "Lembaga pendidikan kini hanya menggunakan sebagian metodologi pengajaran, belum secara keseluruhan," kata Prof. Mohamed Arkoun, pengajar Sejarah Pemikiran Islam di Universitas Sorbonne, Paris, di Jakarta, Rabu.
        Dalam mempelajari kritik nalar Islam, misalnya, penggunaan metodologi struktur saja tidak cukup, tapi perlu menggunakan metodologi lain, seperti sejarah dan filosofi, katanya ketika berbicara tentang "Strategi Bagi Suatu Kritik Nalar Islam" di Pusat Kajian Islam IAIN Syarif Hidayatullah.

Sabtu, 25 November 1995

INDONESIA TERIMA AGA KHAN AWARD KATEGORI INOVATIF

     Yogyakarta, 25/11/1995 (ANTARA) - Indonesia untuk pertama kali menerima Penghargaan Arsitektur Aga Khan untuk kategori inovatif yang dimenangkan Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.
        Pangeran Aga Khan direncanakan akan menyerahkan penghargaan arsitektur tersebut kepada para wakil 12 proyek pemenang di Solo, Sabtu petang.
        "Beberapa penghargaan arsitektur Aga Khan yang diterima Indonesia sebelumnya adalah untuk kategori sosial," ujar Dr.Nurcholis Madjid, salah seorang anggota Komisi Pengarah Penghargaan Aga Khan, di Yogyakarta.

Senin, 13 November 1995

JERMAN PAHAM BILA INDONESIA PERTIMBANGKAN ENERGI NUKLIR

     Jakarta, 13/11/1995 (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup, Konservasi Alam dan Keamanan Nuklir Jerman Dr Angela Merkel berpendapat tidak ada alasan mengapa Indonesia tak patut mempertimbangkan pemanfaatan energi nuklir untuk listrik.
       "Terserah Indonesia untuk memutuskan jenis energi yang ingin digunakan," ujar Dr Merkel dalam wawancara dengan ANTARA di Jakarta Senin.
      Namun, Dr Merkel menekankan bahwa Indonesia harus lebih dahulu mampu mengatasai masalah pembuangan limbah radioaktif yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Rabu, 08 November 1995

AMERIKA MALU KARENA BELUM MERATIFIKASI KONVENSI KEANEKARAGAMAN HAYATI

     Jakarta, 8/11/1995 (ANTARA) - Pemerintah Amerika Serikat merasa malu karena Senat AS menolak untuk meratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati, kata Timothy Wirth, Direktur Jenderal untuk Masalah-masalah Global, Deplu AS.
        "Pemerintahan Presiden Clinton sangat mendukung Perjanjian Keanekaragaman Hayati tersebut dan telah menandatanganinya tahun lalu. Kami akan terus membujuk Senat untuk meratifikasi konvensi itu," ujar Wirth dari Washington DC dalam acara Worldnet Dialogue (wawancara jarak jauh) dengan Koko Sunyoto dari RCTI, Maria Hartiningsi dari Kompas dan Fardah Assegaf dari LKBN ANTARA di Jakarta, Rabu.