Senin, 04 Desember 1995

KUWAIT BELUM BERNIAT JALIN HUBUNGAN KEMBALI DENGAN IRAK

     Jakarta, 4/12/1995 (ANTARA) - Kuwait belum berniat menjalin kembali hubungan dengan Irak selama rezim Saddam Hussein masih berkuasa, kata Duta Besar Kuwait untuk Indonesia Jasem M Jasem Al-Mubaraki di Jakarta, Senin.
   "Kami mengambil sikap seperti ini karena kami telah kehilangan kepercayaan pada Saddam Hussein," ujar Al-Mubaraki kepada ANTARA.
    Sebelum Perang Teluk, Saddam bernjanji pada Raja Arab Saudi dan Presiden Mesir bahwa ia tidak akan menginvasi Kuwait, tapi ternyata ia menginvasi juga, kata Dubes.
    Saddam mengakui kedaulatan dan batas wilayah Kuwait seperti yang ditetapkan oleh PBB, bukan karena ia telah menyesali perbuatannya tapi karena sikap gigih Dewan Keamanan (DK) PBB, kata Al-Mubaraki.
    "Namun kami tetap menganggap bahwa penerimaan Saddam terhadap resolusi PBB mengenai kedaulatan Kuwait tersebut suatu sebagai langkah maju," ujarnya.
    Kuwait tidak pernah dalam satu haripun menjadi pihak yang senang bermusuhan, tambahnya.
    Menurutnya, Kuwait mempunyai hak yang berdaulat untuk menjalin atau tidak mempunyai hubungan dengan negara manapun.
        Ia mengatakan bahwa negaranya tidak pernah bermaksud untuk turut campur dalam urusan dalam negeri negara manapun, termasuk Irak. Mengenai perubahan politik di Irak, misalnya, itu adalah hak rakyat Irak untuk menentukan pilihan sendiri, ujarnya.
        Kuwait senang melihat Irak yang bersatu dalam batas-batas wilayah yang diakui secara internasional, lanjutnya.
        Dubes Al Mubaraki berpendapat bahwa penderitaan rakyat Irak kini adalah tanggung jawab Saddam akibat sikap dan caranya menanggapi resolusi DK PBB.
        Strategi Presiden Irak yaitu hanya memenuhi sebagian saja resolusi DK PBB dengan cara memilah-milah dan berusaha membebaskan diri dari embargo dengan mengaitkan masalah hukum teknis dan politis DK PBB dengan penderitaan rakyat Irak.
        Menurut Dubes, Pemerintah Irak berusaha meyakinkan rakyatnya bahwa penyebab penderitaan mereka adalah Kuwait, DK PBB dan negara lainnya. Padahal kenyataannya penderitaan rakyak Irak adalah akibat rezim Irak sendiri, tambahnya.
        Embargo adalah keputusan berdasarkan resolusi DK PBB, dimana Kuwait bukan anggota karena itu Kuwait tidak mempunyai kekuatan untuk mempertahankan embargo tersebut, katanya.
        "Tapi sejauh yang menyangkut Kuwait, kami telah membantu makanan dan obat-obatan bagi rakyat Irak di bagian utara Irak melalui Turki dan pengungsi Irak di Iran melalui koordinasi dengan Pelang Merah Iran. Kegiatan bantuan ini masih terus berlangsung terutama di bagian selatan Iran," ujar Al-Mubaraki.
        Dubes mengatakan bahwa di Kuwait terdapat ribuan orang Irak yang masih memegang paspor Irak yang menikmati hak-hak penuh sebagaimana pendatang lainnya. "Mereka merasa aman dan bahagia," tambahnya.
        Setiap hari, selalu ada orang Irak yang menyeberangi perbatasan untuk minta suaka ke Kuwait, ujarnya.
        "Bila Kuwait dikatakan buruk, mengapa mereka ingin datang," katanya.
        Emir Kuwait dalam wawancara dengan harian Mesir baru-baru ini mengatakan bahwa Kuwait bersedia memberi sumbangan kemanusiaan seperti makanan dan obat-obatan dalam kerangka prakarsa Arab bersama, tambah Dubes Al-Mubaraki. (T.RI4/B/DN07/22:45/RE2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar