Selasa, 11 Juni 1996

Angka Kematian Ibu Melahirkan Di Indonesia Tertinggi Di Asean

    Jakarta, 11/6/1996 (ANTARA) - Angka kematian ibu saat melahirkan di Indonesia tertinggi di antara negara ASEAN,kata Koordinator Program Senior Dana PBB untuk Anak-anak (UNICEF) Roger Shrimpton di Jakarta, Selasa. 
        Menurut Roger yang menjelaskan tentang laporan tahunan UNICEF "The Progress of Nations 1996", di Indonesia, wanita yang meninggal karena kasus yang terkait dengan kehamilan dan persalinan tercatat empat orang setiap jam.

        "Itu berarti, dari setiap 100.000 ibu melahirkan di Indonesia, 650 orang diantaranya meninggal dunia," katanya.
        "The Progress of Nations" yang diluncurkan serentak di seluruh dunia pada 11 Juni 1996 oleh UNICEF, melaporkan tentang pemantauan statistik tentang kesejahteraan anak-anak dan ibu di lebih dari 160 negara.
        Angka kematian ibu melahirkan di Singapura tercatat 10 per 100.000, Malaysia 80, Thailand 200 dan Filipina 280. "Hal ini berarti keadaan ibu melahirkan di Singapura 40 kali lebih baik dari di Indonesia, sementara di Malaysia, sekitar tujuh kali lebih baik," jelas Roger.

        "Ini artinya sekitar 80 persen kematian ibu melahirkan di ASEAN terdapat di Indonesia, padahal rata-rata tingkat sosial Indonesia hampir sama dengan negara-negara ASEAN lainnya," kata Roger yang mewakili Ketua Perwakilan UNICEF Indonesia Stephen J. Woodhouse, yang kini sedang menghadiri pertemuan UNICEF di Laos.

        Untuk wilayah Asia dan Pasifik, Indonesia berada di urutan 17 bersama-sama dengan Laos yang juga mencatat 650 kematian ibu melahirkan. Namun menurut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1994, angka kematian ibu melahirkan di negara Indonesia adalah 390 per 100.000.

        Dr. H. Abdullah Cholil MPH, asisten menteri I kantor menteri negara urusan peranan wanita (UPW), yang juga hadir di kantor UNICEF tersebut, menyebutkan angka kematian ibu melahirkan di Indonesia sebesar 425, sementara target Pelita VI adalah menurunkan angka tersebut menjadi 220, dan target Pembangunan Jangka Panjang (PJP) adalah 80 per 100.000.

        "Adalah obsesi Pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan tersebut karena angka yang tinggi tersebut bisa mengurangi keberhasilan pembangunan kesehatan nasional," jelas Dr. Abdullah.

        Kurang gizi

        Angka kematian ibu melahirkan tersebut, menurut Roger, sangat terkait dengan keadaan gizi sang ibu. Di Indonesia, sekitar 24 persen wanita usia subur menderita kurang gizi, sementara untuk Timor Timur angka tersebut adalah lebih dari 70 persen, dan di Nusa Tenggara Timur mencapai 48,5 persen.

        Menurut Dr. Abdullah, wanita Indonesia banyak yang mengalami kekurangan gizi karena masyarakat umumnya menganggap status wanita lebih rendah dari pria.

        "Wanita biasanya makan belakangan dalam keluarga. Praktek-praktek begini masih terjadi di Indonesia. Faktor lainnya antara lain pendidikan wanita masih lebih rendah, dan dalam keluarga mereka tak punyak hak untuk memutuskan hal-hal yang menyangkut resiko kesehatan reproduksi," tambahnya.

        Ia berpendapat bahwa 80 persen kematian ibu melahirkan tersebut tidak perlu terjadi bila saja tak terjadi empat keterlambatan, yaitu terlambat mengenali kelahiran beresiko, terlambat mengambil keputusan untuk mencari penolong kesehatan yang benar, terlambat mendapatkan transportasi menuju ke tempat kesehatan dan terlambat mendapatkan pertolongan medis.

        Asmen I Menteri UPW juga mengakui bahwa investasi kesehatan di Indonesia masih relatif sangat rendah. "Investasi kesehatan di Sri Lanka dan Vietnam masih lebih baik di banding kita," tambahnya.

        Menurut "The Progress of Nations", di dunia tercatat 585.000 kematian ibu melahirkan setahun, atau 1.600 per hari, yang berarti 20 persen lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya.

        Lebih dari satu juga anak menjadi yatim akibat kematian 585.000 ibu melahirkan per tahun tersebut. Separuh dari seluruh anak di dunia yang menderita kekurangan gizi berada di Bangladesh, India dan Pakistan.

        Sekitar 140.000 wanita meninggal karena pendarahan, 75.000 karena upaya pengguguran kandungan, dan 40.000 kerena kelahiran yang macet, menurut "The Progress of Nations 1996", yang kali ini memfokuskan diri pada masalah kesehatan ibu. (T/ri4/PU.01/11/06/96 16:07/RU2/1625)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar