Senin, 12 Maret 2001

MESIR, NEGERI KAYA WARISAN SEJARAH SERBA MEGAH oleh Fardah Assegaf



     Bangunan peninggalan Firaun, raja-raja kuno Mesir, pada umumnya berukuran raksasa, sehingga bisa dimaklumi jika ada pendapat yang menyebutkan bahwa mungkin orang Mesir mendapat bantuan dari makhluk luar angkasa, ketika membangun Piramid dan candi-candi yang serba megah.
        Belum lagi kehebatan warisan budayanya yang merupakan karya yang bisa bertahan selama ribuan tahun.  Kumpulan Piramid di Giza, di pinggiran kota Kairo, misalnya, menyuguhkan pemandangan deretan piramid yang megah dan berdiri kokoh.
        Di tempat itu terdapat sembilan piramid, tiga diantaranya berukuran raksasa dan yang paling besar -- tempat menyimpan jenazah atau mumi Firaun Cheops -- berukuran tinggi 147 meter dan luas 230 m2.

        Piramid ini terdiri atas susunan batu sebanyak sekitar tiga juta buah, setiap batu berbobot antara dua hingga enam ton dan justru batu yang paling besar dan berat ditempatkan di bagian paling atas dari Piramid yang dibangun sekitar 3000 tahun sebelum Masehi itu.

        Untuk mengunjungi area sembilan Piramid di Giza itu, pengujung warga negara Mesir dikenakan tarip 1 pound Mesir, sementara wisatawan asing dipungut 20 pound, tetapi hanya pengunjung yang bersedia membayar karcis seharga 60 pound Mesir (sekitar Rp 150.000,-) yang boleh masuk ke dalam Piramid.

        Harga tiket masuk ke dalam piramid sengaja dibuat mahal agar tidak banyak orang yang masuk , setidaknya resiko kerusakan bangunan kuno ini juga berkurang, kata Isaam Hafidz dari Departemen Penerangan Mesir.

        Reeham, gadis cantik ahli benda purbakala Mesir, mengatakan bahwa tenaga kerja yang membangun Piramid ini adalah penduduk setempat, dan bukan budak-budak seperti yang selama ini diperkirakan.

        Duhulu sungai Nil sering meluap dan menyebabkan banjir, masyarakat khususnya petani menjadi menganggur sehingga saat itulah mereka bekerja membangun Piramid, ujarnya.

        Rombongan wartawan Indonesia yang berkunjung ke Mesir atas undangan Kepala Bidang Penerangan Kedubes Mesir di Jakarta, Talaat Lotfy, beruntung mendapat kesempatan melihat isi perut Piramid.

        Bagian dalam piramid sangat unik, pengunjung harus memanjat bebatuan, membungkuk melewati lorong-lorong sempit sepanjang puluhan meter .

        Lorong gelap itu mempunyai beberapa cabang untuk menyesatkan pendatang yang tidak diharapkan, dan hanya satu lorong saja yang menuju ruang persemayaman jenazah (mumi) sang Firaun .

        Memanjat dan menuruni tangga dengan posisi membungkuk di lorong Piramid dapat membuat nafas terengah-engah, dan ketika memasuki ruang pemakaman yang diketemukan adalah kenyataan yang mengejutkan, baik mumi maupun benda-benda kesayangan sang raja sudah lenyap, menyisakan kisahnya saja.

     Menurut kepercayaan Mesir kuno, jenazah Firaun dibalsem dan dibalut kain menjadi mumi karena keyakinan suatu hari akan bangkit kembali.

        Alasan itu pulalah yang membenarkan keberadaan benda-benda kesayangan para raja dan ratu yang mangkat selalu disimpan di dekat mumi karena akan menjadi penuntun roh mereka jika kelak tiba saatnya untuk hidup lagi, jelas Raheem.

        Di dekat sembilan Piramid tersebut, terdapat sebuah candi dan Sphinx , patung singa berkepala manusia dalam ukuran raksasa-- panjang 58 meter, yang konon bertugas untuk menjaga makam Firaun.

        Pada malam hari tempat itu makin memukau dengan pertunjukan cahaya dan suara yang digelar di wilayah padang pasir Giza dengan permainan lampu dan sinar lazer serta narasi yang menceriterakan suasana di zaman Firaun.

        Piramid adalah bentuk arsitektur yang paling murni, demikian narasi yang mengantar tontonan itu.

        Dunia takut pada waktu, namun sang waktu takut pada Sphinx, begitulah moto Sphinx, yang sudah berusia hampir 5000 tahun dan masih berdiri kokoh di dekat Piramid.

        Di Kairo terdapat berbagai peninggalan zaman Firaun lainnya, sebagai warisan Kristen dan Muslim, antara lain berupa bangunan rumah ibadah maupun istana berukuran besar.

        Dari berbagai museum yang ada di ibu kota Mesir , yang paling mengesankan adalah Museum Nasional yang antara lain menyimpan koleksi lengkap harta benda Firaun Tutankhamen.

        Biasanya makam Firaun sering diketemukan dalam keadaan kosong karena isinya sudah dijarah pencuri.

        Ratusan kilo emas, permata dan mumi yang diketemukan di dalam makam Firaun Tutankhamen, dari dinasti ke-18 yang hidup sekitar tahun 1360 Sebelum Masehi, menghiasi museum tersebut.

        Peninggalan yang paling mengesankan antara lain topeng emas cantik seberat 10,23 kg yang digunakan untuk menutup wajah mumi Tutankhamen dan peti mati emas seberat 110 kg.

        Tiga hari tidak akan cukup untuk melihat seluruh koleksi museum ini, ujar Isaam untuk menggambarkan betapa luas bangunan serta sangat kayanya koleksi warisan sejarah yang dipamerkan di Museum Nasional Mesir.

        Museum lainnya yang juga megah adalah Museum Nubia yang terletak di kota Aswan, bagian selatan Mesir, yang dibangun dengan bantun UNESCO dengan luas seluruhnya 50.000 m2.

        Bangunan museum ini khususnya untuk menyelamatkan warisan peradaban bangsa Nubia yang pernah terancam tenggelam karena pembangunan Bendungan Aswan dan danau buatannya yang dinamakan Danau Nasser.

        Di museum yang arsitekturnya tampak harmonis dengan alam sekitarnya ini tersimpan berbagai benda peninggalan zaman prasejarah yang berumur lebih dari 8000 tahun hingga zaman Firaun, Roma, Yunani, Kristen hingga Islam.
Luxor adalah tempat lain yang tak kalah kayanya akan peninggalan sejarah bernilai tinggi baik dilihat dari ukurannya yang serba raksasa maupun usianya yang mencapai ribuan tahun.

        Kota yang makin terkenal setelah insiden pembunuhan sejumlah turis asing oleh teroris Mesir pada tahun 1997 ini, betul-betul membuat para pengunjungnya menahan nafas karena begitu banyaknya temuan peninggalan Firaun , antara lain candi Amon-Ra, candi Karnak serta Lembah Para Raja dan Ratu.

        Di lembah yang gersang dan dikelilingi oleh gunung-gunung batu itu diketemukan puluhan makam raja dan ratu zaman Firaun, antara lain makam Raja Tutankhamen yang muminya masih utuh ada di dalamnya, serta candi Ratu Hatshepsut , berupa bangunan raksasa yang cantik terdiri atas tiga tingkat .

        Ketika para wisatawan asing hilir mudik mengintip makam-makam di Luxor, para arkeolog, kebanyakan dari Barat, juga asyik menyibukkan diri memeriksa temuan-temuan baru mereka di lembah ini.

        Memang, banyak peninggalan bersejarah lainnya yang masih diharapkan dapat diketemukan di Negeri asal ratu Kleopatra ini, dan nyatanya hampir tiada hari tanpa penemuan baru.

        Maka tak heran jika wisatawan asing, terutama dari Eropa, benua Amerika dan Jepang, terus mengalir ke negeri ini untuk menyaksikannya.

        Mesir meraup penghasilan lebih dari 4,5 milyar dolar AS dari kunjungan sekitar 5 juta wisatawan asing setiap tahun . (T. P10/B/RSLN01) 1203011405

Tidak ada komentar:

Posting Komentar