Monday, November 13, 1995

JERMAN PAHAM BILA INDONESIA PERTIMBANGKAN ENERGI NUKLIR

     Jakarta, 13/11/1995 (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup, Konservasi Alam dan Keamanan Nuklir Jerman Dr Angela Merkel berpendapat tidak ada alasan mengapa Indonesia tak patut mempertimbangkan pemanfaatan energi nuklir untuk listrik.
       "Terserah Indonesia untuk memutuskan jenis energi yang ingin digunakan," ujar Dr Merkel dalam wawancara dengan ANTARA di Jakarta Senin.
      Namun, Dr Merkel menekankan bahwa Indonesia harus lebih dahulu mampu mengatasai masalah pembuangan limbah radioaktif yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

        Energi nuklir mempunyai kelebihan dari jenis energi lain, misalnya tidak menimbulkan dampak rumah kaca dan mengurangi emisi CO2 (karbon dioksida), tapi masalah penyimpanan limbah radioaktifnya dapat menjadi problem besar, tambah Menteri Jerman tersebut.
      Pemerintah Jerman memberikan perhatian penting dalam kerjasama di bidang energi dengan Indonesia mengingat konsumsi energi di negara ini meningkat 15 persen setiap tahun akibat pertumbuhan ekonomi dan pertambahan punduduk, ujarnya.
      Dr Merkel, yang memulai karir politik dari Jerman Timur, berada di Jakarta, 13-15 November, bersama sekitar 100 anggota delegasi yang dipimpinnya untuk menghadiri Konperensi ke-2 Para Pihak (yang mensahkan) Konvensi Keragaman Hayati, yang berlangsung dari 6-17 November 1995.
      Sejak penandatanganan kerjasama di bidang lingkungan hidup antara Jerman dan Indonesia, kedua negara telah mengadakan tiga seminar untuk bertukar pengalaman tentang teknologi pembangkit listrik yang aman terhadap lingkungan.
        Dr Merkel di Jakarta, Senin siang, membuka secara resmi Lokakarya tentang "Teknologi Pembangkit Listrik Modern yang Aman Terhadap Lingkungan" yang dihadiri oleh sejumlah pakar, pejabat dan anggota Kamar Dagang dan Industri Indonesia-Jerman (Ekonid).
        Jerman selama ini menggunakan berbagai jenis energi, antara lain tenaga air dan bahan bakar sebagai sumber listrik. "Kita jangan memfokuskan diri pada penggunaan satu jenis energi saja," ujar Menteri. Menurut dia, Jerman mempunyai standar keamanan PLTN yang termasuk terbaik di dunia.

        Kebakaran hutan

        DR Merkel melakukan pembicaraan Senin siang dengan Menteri Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja selama sekitar satu jam untuk membahas kerjasama bilateral di bidang lingkungan hidup.
        "Saya berjanji untuk menyampaikan kepada menteri kerjasama ekonomi dan pembangunan Jerman tentang kemungkinan membantu Indonesia dalam mencegah kebakaran hutan yang beberapa kali telah tejadi," ujar Menteri wanita Jerman tersebut.
       Jerman telah memberikan dana sebesar 5,4 milyar DM untuk berbagai proyek kerjasama pelestarian lingkungan dengan Indonesia hingga 1994, ujarnya.
        Ia menjelaskan bahwa sebagian anggota delegasinya terdiri atas industriawan yang siap membantu mitra Indonesia mereka yang membutuhkan teknologi yang ramah terhadap lingkungan.
        Menteri Lingkungan Jerman, yang negaranya yang terpilih sebagai tempat Sekretariat Konvensi Perubahan Iklim, mengatakan bahwa potensi kerjasama bilateral di bidang teknologi yang berkaitan dengan lingkungan masih sangat besar.
        Menyinggung mekanisme pengumpulan dana lingkungan hidup dunia, Dr Merkel menyatakan masyarakat internasional telah mempunyai mekanisme pendanaan yang memadai bagi pelaksanaan berbagai proyek lingkungan hidup.

        Ia mengingatkan bahwa pengumpulan dana lingkungan hidup dunia perlu memakai mendekatan yang konsisten serta memanfaatkan sumber-sumber dana dari badan-badan multilateral.

        "Masalah pendanaan, tentu saja selalu ingin lebih banyak. Tetapi yang perlu kita laksanakan adalah memakai pendekatan yang konsisten dan mencari sumber-sumber dana multilateral yang potensial," katanya.

        Menurut dia, proyek-proyek lingkungan hidup yang dilakukan secara perseorangan juga perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan dana.

        "Selama tiga tahun kita telah dapat mengumpulkan tiga miliar AS dolar untuk mendanai berbagai proyek lingkungan hidup," katanya

        Mengenai belum masuknya AS dalam kelompok pihak yang mensahkan Konvensi Keragamana Hayati, Dr Merkel menyesalkan kegagalan Amerika Serika untuk mensahkan persetujuan itu akibat penolakan Senat AS.

        "Kami menyayangkan sikap Amerika Serikat yang gagal mensahkan ratifikasi Perjanjian Keanekaragaman hayati namun kita harus mengikutsertakan mereka dalam diskusi seperti ini agar mereka segera mensahkan persetujuan itu," tutur Merkel.

        Direktur Jenderal untuk Masalah Global AS Timothy Wirth mengatakan di Washington DC baru-baru ini bahwa Pemerintahan Clinton sangat mendukung Konvensi Keragaman Hayati dan akan terus mendesak Senat agar segera mensahkannya. Perjanjian itu sejauh ini sudah disahkan 130 negara. (T.RI4/HN10/FN04/B/DN07/21:32/RU6/22:20)

No comments:

Post a Comment